Site Loader

Tulang
adalah jaringan yang hidup dan sebagai jaringan penghubung (connective tissue) yang mempunyai tiga
fungsi,
yaitu untuk gerakan
dan melekatnya otot (fungsi mekanik), untuk melindungi
organ vital, dan sebagai cadangan kalsium dan fosfat (Sherwood, 2004; Baron, 2006).
Selain
itu
tulang juga berperan sebagai
bagian dari sistem imun yaitu pada sumsum tulang, sebagai tempat pengolahan limfosit yang dipersiapkan untuk
membentuk antibodi (Seeman dan Delmas, 2006; Guyton dan Hall, 2007).

Tulang merupakan struktur yang dinamik dan menjalani proses regenerasi
secara terus-menerus yang dinamakan proses remodeling (Manolagas, 2000). Sambo dan Adam (2009) menyatakan bahwa tulang
adalah suatu jaringan tubuh yang dinamik dan mengalami perubahan sepanjang
kehidupan serta merupakan tempat penyimpanan kalsium terbesar. Sehingga jika
terjadi penurunan kalsium plasma yang berlangsung lama karena berbagai sebab
maka tubuh akan mengambil kalsium dari tulang.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Tulang tersusun atas sel dan matriks seluler. Sel-sel
tulang terdiri atas sel osteoprogenitor, sel osteoblas, sel osteoklas, dan sel
osteosit. Sel osteoprogenitor berasal dari mesenkim yang memiliki kemampuan
mitosis sebagai sumber sel baru dari osteoblas dan osteoklas (Compston, 2001).
Sel osteoblas adalah sel yang berfungsi sebagai pembentuk tulang (Arnett,
2003). Sel osteoklas adalah sel yang berperan pada proses resorpsi tulang
(Arnett, 2003). Sel osteosit adalah sel osteoblas yang terbenam dalam matriks
tulang (Arnett, 2003), bertugas untuk mendeteksi adanya perubahan dan gangguan
pada tulang seta memberikan sinyal untuk perbaikan sehingga osteosit menjadi
kontrol remodeling tulang (Noble, 2008; Verbogt et al., 2000).

Matriks seluler memiliki komponen organik dan anorganik sebagai
penyusunnya. Ditinjau dari beratnya, jaringan tulang tersusun atas 70% mineral
(matriks anorganik), 20-25% matriks organik dan 5-8% air
(Seeman dan Delmas, 2006).
Senyawa organik utama
penyusun tulang adalah protein, dan protein utama penyusun tulang adalah
kolagen tipe I yang merupakan 90-95% bahan organik utama sedangkan sisanya
adalah medium homogen yang disebut substansi dasar (Baron, 2006).
Kolagen adalah salah satu
protein yang penting untuk tulang . Kolagen memberikan elastisitas tulang dan
kemampuan untuk menyerap energi saat deformasi mekanik (Laurney et al., 2010).
Sedangkan bahan anorganik utama penyusun tulang
adalah garam kristal yang
diendapkan di dalam matriks tulang terutama terdiri dari kalsium dan fosfor yang dikenal sebagai kristal hidroksiapatit (Guyton,
2004; Murray, 2003). Matriks tulang tersusun atas deposit
kalsium dan fosfat pada tulang (Guyton dan Hall, 2007). Kalsium dibutuhkan untuk mineralisasi tulang dan
penting untuk pengaturan proses fisiologik dan biokimia. Kalsium
diperlukan untuk
memaksimalkan masa tulang dan mempertahankan densitas tulang yang normal (Groff
dan Gropper, 2000).

 

2.1.1
Biomekanika Tulang

       
Sifat mekanik
tulang merupakan kombinasi antara kekuatan (strength)
yaitu stress yang dapat ditahan
tulang tanpa menimbulkan fraktur, keuletan (toughness)
yaitu jumlah energi yang dapat diserap oleh tulang sebelum fraktur, kekakuan (stiffness) yaitu kemampuan tulang untuk
bertahan terhadap deformasi akibat gaya yang mengenainya, dan keletihan (fatigue) yaitu kemampuan tulang untuk
bertahan terhadap beban yang berulang (Laurney et al., 2010).

 

2.1.2
Remodeling Tulang

       
Remodeling tulang merupakan siklus pembentukan tulang baru yang terjadi
secara terus menerus. Secara normal, proses ini terjadi dengan mengganti sel
tulang yang sudah tua dengan pembentukan sel tulang baru. Proses remodeling
tulang mengontrol pembentukan tulang kembali selama pertumbuhan, dan akan
terjadi apabila terjadi kerusakan tulang dan menggantinya dengan yang baru
(Kini dan Nandeesh, 2012).

Siklus normal
remodeling tulang melibatkan adanya proses resorpsi tulang dan pembentukan
tulang yang bekerja secara terkoordinasi. Adanya koordinasi antar sel osteoblas
dan osteoklas dalam proses remodeling ini mengakibatkan jaringan tulang akan
tumbuh secara dinamis.
Osteoblas bertanggung jawab untuk pembentukan tulang dan osteoklas bertanggung
jawab untuk penyerapan tulang (Maudy, 1995). Terjadinya proses pembentukan
tulang berlangsung lebih lama dibanding dengan terjadinya resorpsi tulang
(Manolagas, 2000). Proses remodeling
terjadi dalam 4 fase
utama, yaitu
fase aktivasi, fase resorpsi, fase formasi, dan fase mineralisasi.

            Fase
aktivasi merupakan
langkah awal sebelum terjadinya resorpsi tulang. Dalam fase ini
osteoklas tertarik ke area permukaan bagian dalam tulang. Fase berikutnya
adalah fase resorpsi. Pada
fase ini terjadi dua tahap yang saling tumpang tindih antara
tahap pembentukan rongga-rongga tak beraturan oleh osteoklas. Pada fase ini sel osteoklas mulai merusak matriks mineral tulang.
Resorpsi osteoklastik
menghasilkan rongga tidak teratur pada permukaan tulang trabekular, yang
disebut Howship’s lacunae, atau Haversian canal dalam tulang kortikal.
Tahap reversal adalah saat rongga
tidak teratur yang telah dibuat oleh osteoklas diisi dengan semen sementara
dalam waktu 7-10 hari. Fase resorpsi
yang dimediasi sel osteoklas ini kurang lebih membutuhkan waktu 2-4 minggu.
Setelah fase resorpsi sudah selesai, maka dilanjutkan dengan fase formasi yang
dilakukan oleh osteoblas yang membutuhkan waktu 12 minggu pada orang muda dan
16-20 minggu pada usia menengah atau lanjut. Fase terakhir adalah fase
mineralisasi yaitu pengendapan mineral di dalam tulang yang baru (Kini dan Nandeesh, 2012; Gomez, 2006).
Fase-fase remodeling tulang dapat dilihat pada Gambar 2.1.

                 

Gambar
2.1 Fase remodeling tulang (Sumber: Baynes dan Dominiczak, 2015)

Maka
semakin lama waktu perlakuan akan memberikan efek yang semakin terlihat.
Sedangkan waktu yang dibutuhkan untuk terjadinya proses resorpsi yang kemudian
dilanjutkan dengan proses formasi adalah 2-4 minggu (Kini dan Nandeesh, 2012).

 

2.2 Patologi Anatomi Jaringan Tulang

     Patologi Anatomi merupakan salah satu cabang
ilmu kedokteran yang mempelajari mengenai sel dan jaringan. Pemeriksaan
patologi anatomi dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis dan menentukan
terapi yang tepat. Pemeriksaan ini dilakukan dengan pembuatan preparat dari
jaringan tubuh manusia (Hastuti. 2011)

           

Gambar
2.2
Skema penyusunan
jaringan tulang (Sumber : Junqueira, 2007)

Osteoblas mensintesis kolagen , yang membentuk matriks tulang. Secara
bertahap , osteoblas berdiferensiasi menjadi osteosit yang terperangkap dalam
matriks tulang yang beru terbentuk. Osteoklas yang terletak dalam lakuna
Howship berfungsi untuk mendegradasi sel yang mati.

 

 

Gambar 2.3 Struktur
tulang mikroskopik (Sumber : Deep Blue, University of Michigan)

 

Gambar 2. 4 Susunan
sel tulang

A.    Osteoblas

B.     Osteosit

C.     Osteoid

D.    Cement Line

E.     Tulang Matur

(Sumber : Bone Lab, Yale University, 2012)

            Jaringan tulang secar histologis tersusun
atas matriks tulang dan sel-sel tulang. Matriks tulang tersusun atas bahan
anorganik dan bahan organik. Sebagian besar bahan anorganik dalam matrikstulang
adalah kalsium dan fosfor, namun bikarbonat, sitrat, kalium, natrium, dan
magnesium juga terkandung dalam matriks tulang. Sedangkan bahan organik dalam
matriks tulang adalah kolagen tipe I dan subsansi dasar, yang mengandung
agregat preoeoglikan dan beberapa glikoprotein struktural spesifik.Glikoprotein
dalam tulang diperlukan untuk kalsifikasi matriks tulang (Junqueira, 2007)

            Sel-sel tulang terdiri dari
osteoblas , osteosit, dan osteoklas. Sel osteoblas merupakan sel basofilik dan
mononuklear dengan inti yang besar. Sel ini berperan dalam proses pembentukan
tulang maupun regenerasi tulang dengan cara memproduksi, mensekresi ,
mendeposisi, dan memineralisasi matriks tulang (Jayakumar, 2010). Sel osteosit
merupakan sel yang berasal dari osteoblas dan teletak di dalam lakuna yang
terletak diantara lamela-lamela matriks. Sel osteosit memiliki inti yang gelap
dengan sitoplasma basofil. Sel ini berperan aktif dalam mempertahankan matriks
tulang, dan apoptosis selnya diikuti oleh resorpsi metriks tulang tersebut.
Sedangkan sl osteoklas merupakan sel raksasa yang terletak pada lakuna Howship.
Sel osteoklas memiliki bagian sel yang melebar dan mengandung 5-50 inti (atau
lebih) dengan sitoplasma asidofil. Sel ini berperan dalam demineralisasi dan
degradasi sel yang mati (Junqueira, 2007)

            Kalsium yang terkandung di dalam
daun bayam merah akan membantu proses penyembuhan patah tulang melalui
stimulasi osteoblas dan supresi osteoklas. Salah satu marker yang menunjukkan
pengaruh kalsium dalam penyembuhan patah tulang adalah jumlah osteoblas.
Osteoblas diamati dari preparat jaringan tulang tikus di bawah mikroskop.

Sabri (2013) meneliti tentang pengaruh ekstrak etanol Cissus quadrangualis terhadap
pertumbuhan tikus yang diinduksi ovariektomi. Sabri menyatakan bahwa densitas
osteoblas yang tinggi menunjukkan adanya proses remodelling yang masih berjalan
akibat pengaruh fitoestrogen dalam ekstrak etanol Cissus quadrangualis yang berpengaruh pada aktifitas osteoblas dan
osteoklas. Osteoblas memiliki peranan dalam penyusunan kepadatan dan
normalisasi struktur tulang karena ostoeblas akan membentuk osteosit sebagai
sel tulang matur. Dengan demikian densitas osteoblas mencerminkan proses
remodelling yang terjadi.

 

2.3 Anatomi dan Histologi Proses Penyembuhan Fraktur Tulang

       Proses penyembuhan
suatu fraktur dimulai sejak terjadi fraktur sebagai usaha tubuh untuk memperbaiki
kerusakan – kerusakan yang dialaminya. Penyembuhan dari fraktur dipengaruhi
oleh beberapa faktor lokal dan faktor sistemik, adapun faktor lokal:

a.
Lokasi fraktur

b.
Jenis tulang yang mengalami fraktur.

c.
Reposisi anatomis dan immobilasi yang stabil.

d.
Adanya kontak antar fragmen.

e.
Ada tidaknya infeksi.

f.
Tingkatan dari fraktur.

Adapun
faktor sistemik adalah :

a.
Keadaan umum pasien

b.
Umur

c.
Malnutrisi

d.
Penyakit sistemik.

Proses
penyembuhan fraktur terdiri dari beberapa fase, sebagai berikut :

1.
Fase Reaktif

a.
Fase hematom dan inflamasi

b.
Pembentukan jaringan granulasi

2.
Fase Reparatif

a.
Fase pembentukan callus

b. Pembentukan
tulang lamellar

3.
Fase Remodelling

a.
Remodelling ke bentuk tulang semula

Jay.
R. liberman, M. D. and Gary E Friedlaender (2005)

Dalam
istilah-istilah histologi klasik, penyembuhan fraktur telah dibagi atas
penyembuhan fraktur primer dan fraktur sekunder.

 

2.3.1 Proses penyembuhan Fraktur
Primer

          Penyembuhan cara ini terjadi internal
remodelling yang meliputi upaya langsung oleh korteks untuk membangun
kembali dirinya ketika kontinuitas terganggu. Agar fraktur menjadi menyatu,
tulang pada salah satu sisi korteks harus menyatu dengan tulang pada sisi
lainnya (kontak langsung) untuk membangun kontinuitas mekanis. Tidak ada
hubungan dengan pembentukan kalus. Terjadi internal remodelling dari haversian
system dan penyatuan tepi fragmen fraktur dari tulang yang patah. Ada 3 persyaratan
untuk remodeling Haversian pada tempat fraktur adalah:

1.
Pelaksanaan reduksi yang tepat

2.
Fiksasi yang stabil

3.
Eksistensi suplai darah yang cukup

Penggunaan plate kompresi dinamis dalam model
osteotomi telah diperlihatkan menyebabkan penyembuhan tulang primer. Remodeling
haversian aktif terlihat pada sekitar minggu ke empat fiksasi.

 

2.3.2 Proses Penyembuhan Fraktur
Sekunder.

        Penyembuhan sekunder meliputi respon
dalam periostium dan jaringan-jaringan lunak eksternal. Proses penyembuhan
fraktur ini secara garis besar dibedakan atas 5 fase, yakni fase hematom (inflamasi), fase
proliferasi, fase kalus, osifikasi dan remodelling. (Buckley, R., 2004,
Buckwater J. A., et al,2000).

a. Fase Inflamasi:

Tahap inflamasi berlangsung beberapa hari dan hilang
dengan berkurangnya pembengkakan dan nyeri. Terjadi perdarahan dalam jaringan
yang cedera dan pembentukan hematoma di tempat patah tulang. Ujung fragmen
tulang mengalami devitalisasi karena terputusnya pasokan darah terjadi hipoksia
dan inflamasi yang menginduksi ekpresi gen dan mempromosikan pembelahan sel dan
migrasi menuju tempat fraktur untuk memulai penyembuhan. Produksi atau
pelepasan dari faktor pertumbuhan spesifik, Sitokin, dapat membuat kondisi
mikro yang sesuai untuk :

1)
Menstimulasi pembentukan periosteal osteoblast dan osifikasi intra
membran pada tempat fraktur,

2)
Menstimulasi pembelahan sel dan migrasi menuju tempat fraktur, dan

3)
Menstimulasi kondrosit untuk berdiferensiasi pada kalus lunak dengan osifikasi

endokondral
yang mengiringinya. (Kaiser 1996).

Berkumpulnya
darah pada fase hematom awalnya diduga akibat robekan pembuluh darah lokal yang
terfokus pada suatu tempat tertentu. Namun pada perkembangan selanjutnya
hematom bukan hanya disebabkan oleh robekan pembuluh darah tetapi juga berperan
faktor faktor inflamasi yang menimbulkan kondisi pembengkakan lokal. Waktu
terjadinya proses  ini dimulai saat
fraktur terjadi sampai 2 – 3 minggu.

 

b. Fase proliferasi

    Kira-kira 5 hari hematom akan mengalami
organisasi, terbentuk benang-benang fibrin dalam jendalan darah, membentuk
jaringan untuk revaskularisasi, dan invasi fibroblast dan osteoblast.
Fibroblast dan osteoblast (berkembang dari osteosit, sel endotel,
dan sel periosteum) akan menghasilkan kolagen dan proteoglikan sebagai matriks
kolagen pada patahan tulang. Terbentuk jaringan ikat fibrous dan tulang rawan
(osteoid). Dari periosteum, tampak pertumbuhan melingkar. Kalus tulang rawan
tersebut dirangsang oleh gerakan mikro minimal pada tempat patah tulang. Tetapi
gerakan yang berlebihan akan merusak struktur kalus. Pada fase ini dimulai pada
minggu ke 2 – 3 setelah terjadinya fraktur dan berakhir pada minggu ke 4 – 8.

c.
Fase Pembentukan Kalus

   Merupakan fase lanjutan dari fase hematom
dan proliferasi mulai terbentuk jaringan tulang yakni jaringan tulang kondrosit
yang mulai tumbuh atau umumnya disebut sebagai jaringan tulang rawan.
Sebenarnya tulang rawan ini masih dibagi lagi menjadi tulang lamellar dan
wovenbone. Pertumbuhan jaringan berlanjut dan lingkaran tulang rawan
tumbuh mencapai sisi lain sampai celah sudah terhubungkan. Fragmen patahan
tulang digabungkan dengan jaringan fibrous, tulang rawan, dan tulang serat
matur. Bentuk kalus dan volume dibutuhkanuntuk menghubungkan efek secara
langsung berhubungan dengan jumlah kerusakan dan pergeseran tulang. Perlu waktu
tiga sampai empat minggu agar fragmen tulang tergabung dalam tulang rawan atau
jaringan fibrous. Secara klinis fragmen tulang tidak bisa lagi digerakkan.
Regulasi dari pembentukan kalus selama masa perbaikan fraktur dimediasi oleh
ekspresi dari faktor-faktor pertumbuhan. Salah satu faktor yang paling dominan
dari sekian banyak faktor pertumbuhan adalah Transforming Growth Factor-Beta 1 (TGF-B1) yang menunjukkan
keterlibatannya dalam pengaturan differensiasi dari osteoblast dan produksi matriks ekstra seluler. Faktor lain
yaitu: Vascular Endothelial Growth
Factor (VEGF) yang berperan penting pada proses angiogenesis selama
penyembuhan fraktur. (Chen.,et al,2004).

Pusat
dari kalus lunak adalah kartilogenous yang kemudian bersama osteoblast akan berdiferensiasi
membentuk suatu jaringan rantai osteosit, hal ini menandakan adanya sel tulang
serta kemampuan mengantisipasi tekanan mekanis. (Rubin,E,1999). Proses cepatnya
pembentukan kalus lunak yang kemudian berlanjut sampai fase remodelling adalah
masa kritis untuk keberhasilan penyembuhan fraktur. (Ford,J.L,et al,2003).

Jenis-jenis
Kalus

Dikenal
beberapa jenis kalus sesuai dengan letak kalus tersebut berada terbentuk kalus
primer sebagai akibat adanya fraktur terjadi dalam waktu 2 minggu Bridging (soft) callus terjadi
bila tepi-tepi tulang yang fraktur tidak bersambung. Medullary (hard) Callus
akan melengkapi bridging callus secara
perlahan-lahan. Kalus eksternal berada paling luar daerah fraktur di bawah periosteum periosteal callus terbentuk
di antara periosteum dan tulang yang fraktur. Interfragmentary callus merupakan kalus yang terbentuk dan
mengisi celah fraktur di antara tulang yang fraktur. Medullary callus terbentuk di dalam medulla tulang di
sekitar daerah fraktur. (Miller, 2000)

d. Stadium Konsolidasi

    Dengan aktifitas osteoklast dan osteoblast
yang terus menerus, tulang yang immature (woven bone) diubah menjadi mature (lamellar bone). Keadaan tulang ini menjadi lebih kuat
sehingga osteoklast dapat menembus jaringan debris pada daerah fraktur
dan diikuti osteoblast yang akan mengisi celah di antara fragmen dengan
tulang yang baru. Proses ini berjalan perlahan-lahan selama beberapa bulan
sebelum tulang cukup kuat untuk menerima beban yang normal.

e. Stadium Remodelling.

    Fraktur telah dihubungkan dengan selubung
tulang yang kuat dengan bentuk yang berbeda dengan tulang normal. Dalam waktu
berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun terjadi proses pembentukan dan penyerapan
tulang yang terus menerus lamella yang tebal akan terbentuk

pada
sisi dengan tekanan yang tinggi. Rongga medulla akan terbentuk kembali
dan diameter tulang kembali pada ukuran semula. Akhirnya tulang akan kembali
mendekati bentuk semulanya, terutama pada anak-anak. Pada keadaan ini tulang
telah sembuh secara klinis dan radiologi.

 

Gambar 2.5 Proses Penyembuhan Fraktur  (Jay. R. liberman, M. D. and Gary E
Friedlaender, 2005)

 

2.3 Stres
Oksidatif

2.3.1 Definisi

       Stres Oksidatif adalah keadaan dimana
produksi radikal bebas melebihi sistem pertahanan tubuh atau antioksidan
(Agarwal et al, 2015). Jika produksi
radikal bebas melebihi dari kemampuan antioksidan intrasel untuk menetralkan
maka sangat potensial menyebabkan kerusakan biomolekul penyusun sel (Valko et al., 2007).

2.3.2 Radikal Bebas

        Pada kondisi stres oksidatif terjadi
produksi radikal bebas yang berlebihan. Radikal bebas adalah atom atau elektron
yang tidak berpasangan sehingga tidak stabil dan cenderung menarik elektron
dari molekul lainnya untuk melengkapi konfigurasi elektronnya (Suwandi, 2012).
Keadaan ini menyebabkan molekul tersebut bersifat reaktif dan tidak stabil
sehingga cenderung berikatan dengan senyawa lain untuk membentuk molekul yang
stabil yang berakibat terjadi kerusakan terhadap sel dan jaringan karena
interaksi antara oksigen bebas dengan DNA (Reda, 2001)

            Secara umum , sumber radikal bebas
dapat dibedakan menjadi dua, yaitu endogen (dari dalam tubuh) dan eksogen (dari
luar tubuh). Adapun sumber radikal bebas endogen (dari dalam tubuh) dan eksogen
(dari luar tubuh). Adapun sumber radikal bebas endogen yaitu berasal dari aktivitas
enzimatis dan non enzimatis. Aktivitas enzimatis terjadi pada proses
metabolisme yang menghasilkan radikal bebas sebagai produk sampingan. Selain
itu terdapat juga reaksi non enzimatis. Reaksi ini merupakan reaksi oksigen
dengan senyawa lain dalam tubuh akibat proses radiasi dan ionisasi, seperti
yang terjadi pada proses infeksi. Adapun sumber radikal bebas eksogen berasal
dar polutan, merokok, asap rokok bagi perokok pasif, asal kendaraan bermotor
(Suwandi,2012)

            Produksi radikal bebas yang berlebihan  menyebabkan kemampuan sistem pertahanan tubuh
alami untuk mengeliminasinya mengalami gangguan sehingga mengganggu rantai
reduksi oksidasi normal yang akan menyebabkan kerusakan oksidatif jaringan
(Winarsi,2007).

2.3.3 Antioksidan

        Antioksidan  adalah senyawa yang mempunyai struktur molekul
yang dapat memberikan molekulnya kepada molekul radikal bebas. Senyawa
antioksidan merupakan substansi yang diperlukan tubuh untuk menetralisir
radikal bebas dan mencegah kerusakan yang ditimbulkan oleh radikal bebas
terhadap sel normal, protein dan lemak. (Halliwell et al., 2000)

            Sumber – sumber antioksidan yang
dapat dimanfaatkan oleh manusia dikelompokkan menjadi tiga yaitu pertama,
antioksidan yang sudah ada di dalam tubuh manusia yang dikenal dengan enzim
antioksidan yang sudah ada di dalam tubuh manusia yang dikenal sebagai enzim
antioksidan (SOD, GPx, dan CAT). Kedua, antioksidan sintetis yang banyak
digunakan pada produk pangan seperti BHA, BHT, PG, dan TBHQ. Ketiga,
antioksidan alami yang diperoleh dari bagian-bagian tanaman seperti kayu, akar,
daun, buah, bunga, biji, dan serbuk sari. Jenis antioksidan yang banyak
didapatkan dari bahan alami berupa vitamin C dan E, beta karoten, pigmen
seperti antosianin, klorofil, flavonoid dan polifenol (Ardiansyah, 2007)

            Mekanisme kerja antioksidan secra
umum adalah menghambat oksidasi lemak. Oksidasi lemak terdiri atas tiga tahap
utama yaitu inisiasi, propagasi dan terminasi. Pada tahap inisiasi terjadi
pembentukan radikal asam lemak, yaitu suatu senyawa turunan asam lemak yang
bersifat tidak stabil dan sangat reaktif akibat dari hilangnya satu atom
hidrogen (reaksi 1). Pada tahap selanjutnya, yaitu propagasi, radikal asam  lemak akan bereaksi dengan oksigen membentuk
radikal peroksi (rekasi 2). Radikal peroksi lebih lanjut akan menyerang asam
lemak menghasilkan hidroperoksida dan radikal asam lemak baru (reaksi 3).

Inisiasi                         : RH — R* + H*                     (reaksi 1)

Propagasi                     : R* + O2 —
ROO*                 (reaksi 2)

                                      ROO* + RH —- ROOH + R* (reaksi 3)

            Hidropoeroksida yang terbentuk
bersifat tidak stabil dan akan terdegradasi lebih lanjut menghasilkan
senyawa-senyawa karbonil rantai pendek seperti aldehida dan keton yang
bertanggung jawab atas flavor makanan berlemak. Tanpa adanya antioksidan ,
reaksi oksidasi lemak akan mengalami terminasi melalui reaksi antar radikal
bebas membentuk kompleks bukan radikal (reaksi 4).

            Terminasi : ROO* + ROO —–non
radikal (reaksi 4)

                                R* + ROO * —- non radikal

                                R* + R* — non radikal

            Antioksidan yang baik akan bereaksi
dengan asam lemak segera setelah senyawa tersebut terbentuk. Dari berbagai
antioksidan yang ada, mekanisme kerja serta kemampuannya sebagai antioksida
sangat bervariasi. Seringkali, kombinasi beberapa jenis antioksidan memberikan
perlindungan yang lebih baik (sinergisme) terhadap oksidasi dibanding dengan
satu jenis antioksidan saja (Medikasari, 2000).

            Keseimbangan antara antioksidan dan
radikal bebas menjadi kunci utama pencegahan stres oksidatif (Sofia, 2013).
Tubuh manusia menghasilkan senyawa antioksidan, namun jumlahnya tidak mencukupi
untuk menetralkan  radikal bebas yang
cukup tinggi sehingga diperlukan antioksidan dari luar tubuh yang bisa
didapatkan melalui antioksidan alami yang berasal dari tumbuhan. (Hernani,
2006)

 

2.3.4 Stres Oksidatif pada fraktur

         Stres oksidatif pad fraktur tulang
berasal dari aktivitas fragmen tulang yang bereaksi dengan kolagen dan oksigen,
serta dari aktivitas osteoklas dalam penyembuhan fraktur. Selain itu stres
oksidatif pada fraktur terjadi akibat inflamasi pada fase kedua  proses penyembuhan fraktur tulang. Apabila
jumlah radikal bebas ini tidak diimbangi dengan jumlah antioksidan akan
mempengaruhi mekanisme penyembuhan fraktur tulang dalam tubuh (Sheweita, 2007)
.

            Produk stres oksidatif pada fraktur
tulang diantaranya adalah RNS  yaitu jenis nitrite oxide (NO)  dimana
dalam jumlah normalnya berperan dalam memediasi vasodilatasi dan proliferasi
vaskuler pada pembentukan kalus. Namun, jika terjadi peningkatan aktivitas NO menyebabkan hambatan proliferasi dan
diferensiasi osteoblas , menginduksi terjadinya apoptosis osteoblas, dan
supresi fungsi osteoklas untuk mendegenerasi sel yang mati (Corbett, 1999).
Jenis radikal bebas lainnya yang dapat mepengaruhi penyembuhan fraktur yakni ROS yang berperan dalam regenerasi sel. ROS akan memediasi proses lipid
peroksidase , yang apabila terjadi ketidakseimbangan dalam proses terminasi
dapat menginisiasi terbentuknya senyawa radikal yang reaktif dan toksik. Hal
ini akan mengaktifkan mediator inflamasi yang dapat menyebabkan kerusakan pada
lipoprotein dan berakhir pada disfungsi atau kerusakan sel. Maka dari itu,
jumlah ROS yang eningkat akan menjadi penghambat dari regenerasi sel dalam
proses peyembuhan fraktur (Cadenas, 2002).

Post Author: admin

x

Hi!
I'm Lewis!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out